Bahasa Kasih :  Dasar, kamu anak Ikan ? Sebuah esai sederhana untuk ultah Ms Rantio Samosir ( 14 Februari )

bbb

Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3).

            Saat masih kecil, salah satu cerita rakyat yang pernah saya baca adalah kisah terjadinya danau Toba dan pulau Samosir. Salah satu cerita rakyat yang meninggalkan sebuah kesan mendalam dalam hati. Sebuah kisah yang mengajarkan kepada saya untuk menjaga kata-kata terhadap orang lain. Satu bagian yang teringat oleh saya adalah bagaimana kata-kata yang tak terjaga menghancurkan relasi dalam keluarga. Tak mampu mengelola emosi sehingga lupa pada akal sehat, lupa pada janji yang telah diucapkan sebelumnya.

Samosirpun tersentak dan bergegas menuju kebun ayahnya. Dia melihat ayahnya sudah kelaparan dan kehauasan. Merasa berat, Samosirpun memberikan bekal kepada ayahnya. Dan terkejutlah ayahnya melihat isi bekal yang diberikan Samosir.

“Iya, Among. Samosir tadi lapar dan aku makan, masakan Inong sekali rasanya” kata Samosir kepada ayahnya yang terlihat emosi. Spontan ayahnya marah dan melempar bekal yang sudah kosong tadi sembari berkata kepada Samosir: “Kurang ajar kau Samosir, dasar anak ikan kau ini”.

Samosirpun menangis dan pergi berlari menuju rumah menemui ibunya. Ibu, ibu , ayah marah besar Samosir disebut anak ikan. Kata Samosir kepada ibunya. Ibunyapun menangis, sektika itu ibunya menyuruh Samosir berlari ke sebuah bukit diketinggian. Lalu hujanpun semakin deras, angin kencang, gemuruh dan petirpun menyambar-nyambar seketika itu. (http://www.gobatak.com/asal-usul-danau-toba/)

            Penggalan kisah di atas tentu saja membawa kita pada sebuah pengertian bahwa bahasa “marah” seringkali berakhir pada situasi “ chaos” : sakit hati, benci, konflik, dendam.  Bahasa amarah di atas terlihat dalam pernyataan “Kurang ajar kau Samosir, dasar anak ikan kau ini”. Tak jarang kalimat semacam bermunculan dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah dan di masyarakat. Kita pun sudah melihat akibat dari ucapan-ucapan ini.

            Apakah kita masih ingin bertahan dalam pola-pola destruktif ini? Tentu saja kita tidak menginginkan hal ini. Bahasa amarah harus digantikan dengan sebuah bahasa lain. Bahasa lain yang menghadirkan harmoni dan kerukunan. Bahasa itu tidak lain adalah bahasa kasih.

            Apa itu bahasa kasih ? Baiklah kita mencari makna bahasa kasih dalam konteks perayaan spesial di tanggal 14 Februari.

14 Februari selalu menjadi salah satu tanggal spesial bagi kebanyakan orang yang hidup di muka bumi ini. Kebanyakan orang pastilah mengingat dengan baik tanggal ini. Tentu saja orang-orang menanti-nantikan tibanya tanggal ini. 14 Februari tanggal yang dispesialkan untuk merayakan “ KASIH”. Yah, 14 Februari adalah hari Valentine atau Hari Kasih Sayang.

Dalam berbagai pengalaman dari penghuni bumi ini, kita menemukan bahwa ada berbagai macam cara untuk merayakan hari KASIH SAYANG ini. Pada umumnya, orang akan memberikan coklat untuk orang yang dikasihinya. Ada orang yang memberikan bunga kepada orang yang dikasihinya. Ada orang yang menyiapkan perayaan makan malam spesial untuk orang yang dikasihinya. Singkatnya ada hal-hal spesial ( baik mewah ataupun sederhana) untuk menunjukkan “ Kasih Sayang” kepada orang yang dikasihinya.

Kasih Sayang adalah sebuah frasa yang sifatnya universal. Ia ada di mana-mana. Ia ada dalam segala masa. Ia dimiliki oleh setiap orang dari berbagai belahan dunia. Hal ini bisa terjadi karena Kasih Sayang berkaitan erat dengan kemanusiaan.  Dalam KBBI, kata kasih diartikan sebagai perasaan sayang ( cinta, suka kepada). Kata sayang berarti  kasih sayang kepada, cinta kepada, jantung hati, kasihan, tidak ikhlas. Luas sekali pengertian sayang ini.

Dalam pencarian saya tentang kata  sayang, saya menemukan bahwa kata sayang ini berasal dari dua kata dalam konsep Hinduisme yaitu “ Sa” dan “ Hyang”. “ sa” berarti satu. “ Hyang” berarti  Tuhan. Sehingga bila dua kata ini digabungkan dan diartikan secara harafiah maka artinya : Tuhan yang satu. Sangat menarik bahwa kata sayang berkaitan dengan Tuhan. Tuhan yang memperhatikan dengan sangat baik ciptaannya.  Frasa kasih sayang sendiri diartikan sebagai cinta kasih, belas kasihan. Dari pengertian-pengertian di atas bisa kita simpulkan bahwa kasih sayang diartikan sebagai rasa yang timbul dalam diri, hati yang tulus untuk mencintai, menyayangi, serta memberikan kebahagiaan kepada orang lain, atau siapapun yang dikasihinya.

Ada hal yang menarik bila kita melihat frasa kasih sayang ini dalam bahasa Latin. Dalam bahasa Latin, ada beberapa kata yang digunakan untuk menunjukkan rasa kasih atau cinta. Ada kata philia, agape, dan eros Kata-kata ini berkaitan dengan kasih sayang. Tapi apa pembedanya ? Baiklah kita coba pahami ketiganya.

Eros (cinta seksual, yang didasarkan pada nafsu/birahi). Cinta semacam ini memandang pasangan sebagai objek dan bukan sebagai subjek. Cinta ini adalah cinta yang ego. Cinta yang hanya terarah kepada diri sendiri.

Philia berarti ( cinta persahabatan). Dalam konteks ini, sesama dianggap sebagai pribadi yang mempunyai kekhasan dan kualitasnya masing-masing ( cantik, ramah, lembut, pengertian) . Cinta ini tidak dibatasi oleh jenis kelamin tetapi ia hadir untuk semua orang baik, laki-laki maupun perempuan.

Sedangkan yang terakhir adalah agape.

Agape : cinta yang tertinggi. Cinta jenis tidak lagi bergantung pada bakat, kualitas yang ada dalam pribadi orang lain ( cantik, lembut, ramah, pengertian). Dalam cinta agape, kita tidak lagi memandang orang lain sebagai pribadi yang ada di luar diri kita melainkan orang lain adalah bagian dari diri kita. Dalam cinta ini, kita berani berkorban apapun untuk orang lain. Aku berani berkorban untukmu karena engkau adalah bagian dari diriku. Cinta ini mengatasi segala perbedaan yang ada ( Suku, Agama, Ras dan Aliran ). Atau bisa diuraikan dengan bahasa lain; agape itu adalah ‘cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, cinta tanpa batas, cinta tanpa syarat (unconditional love). Cinta agape tidak pernah egois. Dalam tradisi Kristen, agape berarti cinta yang bersifat total, kerap identik dengan cinta Tuhan terhadap ciptaan-Nya.

            Bercermin dalam pengertian di atas (eros, philia dan agape) ? Pada level manakah kita berada ? Masih di eros atau di philia ataukah sudah di agape ? Hal ini bisa menjadi bahan refleksi kita pada Hari Valentine ini.

            Hari ini Ms Rantio Samosir merayakan hari ulang tahunnya. Tentu saja, hal ini sangat membahagiakan. Semoga Ms Rantio selalu menampilkan aura kasih sayang kepada siapa saja. Kelahiran di hari ini tentu saja jadi sumber inspirasi untuk Ms Rantio. Untuk selalu mengandalkan “ kasih sayang” dalam membangun relasi dengan siapa saja. “ Kasih sayang” menjadi sarana dan alat yang mampu menjadi kita sebagai saudara meski kita berbeda.  Dalam konteks sebagai guru, relasi kasih sayang yang terbangun dengan murid/peserta didik merupakan hal yang baik. Relasi ini membangun rasa percaya murid kepada guru. Relasi ini akan membangkitkan rasa nyaman dan positif murid kepada guru. Relasi ini tentu saja menjadi relasi yang dapat membantu siswa/peserta didik tumbuh seimbang sebagai pribadi yang semakin dewasa dalam segala aspek.

Dari uraian sederhana di atas, bisa kita simpulkan bahwa bahasa kasih itu bisa dikaitkan dengan agape. Selamat ber”agape”. Hidup kita akan menjadi lebih damai. Kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk apa bertikai, untuk apa berkonflik? Lebih baik hidup saling mengasihi satu sama lain.

Sebagai penutup, saya teringat dengan sebuah lagu kristiani yang berjudul “ Bahasa kasih “. Beberapa liriknya menarik dan inspiratif.

Cinta itu lemah lembut sabar sederhana

Cinta itu murah hati rela menderita

Selamat ulang tahun Ms Rantio Samosir. Semoga selalu sehat, panjang umur, penuh dengan berkat dalam hidup. Selalu jadi inspirasi “ Kasih “ bagi sesama. Semoga bisa selalu menampilkan cinta yang lemah lembut, sabar, sederhana, murah hati, dan rela menderita bagi sesama yang ada di sekitar Ms Rantio.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s